Mengejar Sunset (Pok Tunggal Part 1)

Assalamu’alaikum sobat pembaca yang budiman,,yang berbudi serta beriman. Sebelumnya jangan kaget yaa kalau melihat judul postingan ane yg satu ini. Mungkin ini akan panjang lebar bin bertele-tele,, tapi kalian harus dan wajib membacanya,,terutama bagi teman2 yang ikutan piknik kali ini,, sekedar buat mengenang cerita jalan2 kita.

Postingan ini adalah cerita ane dan kawan2 kerja ane yang kompak nan suka melakukan kegiatan2 di alam(jalan2men),,misalnya rafting,, muncak gunung,, berenang (ane g ikutan) dan kali ini adalah camping di pantai.
Acara yang telah dibahas panjang lebar secara matang dan detail sedari januari-februari awal tahun ini menetapkan untuk mengejar sunset di pinggir pantai pok tunggal.

image

Sekedar tahu saja, pantai pok tunggal adalah salah satu pantai yang cukup eksotis yang terletak di belakang jajaran bukit KARS pulau jawa bagian selatan, tepatnya di kabupaten gunungkidul, jogjakarta. Itu kenapa kita memilih pantai ini untuk acara kita camping di weekend ini. Selain itu juga kita penasaran dengan satu-satunya pohon yang menjadi ikon pantai ini, terlihat begitu mempesona nan menawan hati di tengah-tengah hamparan pasir putih pantainya.

Awal cerita adalah sabtu 4 april 2015. Hari keberangkatan camping yang telah kita nantikan jauh-jauh hari. Segala perlengkapan juga sudah kita packing malam harinya dari pakaian ganti, perlengkapan mandi, makanan, perlengkapan makan, perlengkapan masak, perlengkapan bakar-bakar, perlengkapan camping(tenda, matras dan tikar) dan uang saku yang cukup buat piknik. (Disini kita terlihat sangat ribet, serius). Tidak lupa persiapan motor masing-masing pasangan yang ternyata kebanyakan adalah memakai motor metik(ompong nan tanpa gigi),,motor yang simpel, muat barang banyak, irit, tinggal pluntir gas aja udah jalan.
Tapi ane kali ini percayakan ke jarjit, motor kesayangan ane yang telah menemani ane bertahun-tahun. Ganti olie, cek tekanan ban, dan segala bentuk kelengkapan berlalulintas dari lampu2 sampai klakson pun semua normal dan layak jalan. Dan yang paling penting selalu diisi bahan bakarnya.

Berangkatnya dari kantor gan, karena hari itu kita engga libur yaa, meskipun harpitnas. Kantor kita terletak di mojosongo surakarta, dan kita start sepulang kerja jam 11.00. Sebenarnya belum waktunya pulang sih, karena pada hari itu bertepatan dengan acara makan2 rutin dengan teman2 kantor dirumah makan mbok marni(akan ane ceritakan di lain kesempatan). Lumayan lah ngirit makan siang sebelum berangkat ke pantai. Hehe….

Jam 12.30 selesai makan dan kita capcus ke daerah gading, jemput temen. Disini kita menghabiskan waktu 1jam sendiri dari sholat, kumpul, dan prepare perlengkapan2 camping(diluar perkiraan banget). Dan akhirnya kita berangkat juga jam 13.40 di daerah dawung guna mengambil bakso bakar, bumbu, arang dan perlengkapan bakaran lainnya. Disitu kita sejenak memanjatkan doa agar perjalanan kita sukses, lancar tanpa terkendala sesuatu hal.

Ketika berangkat kita terdiri dari 9 personil, yaitu budi, satrio, reza, adi, fakhri, yusuf, shtrisno, dheva dan yang terakhir tentu ane yang paling polos diantara yg lain. Disini ane malah yang dipercaya jadi ketua pelaksana.
Dari situ juga awalnya ane yang dipercaya untuk menjadi pimpinan rombongan. Ane jadi ngga pede, ane bener2 gak hafal jalanan ke pantai, serius men. Disitu sama ane kesasar salah jalur sekali pas nyari jalan tembus ke sritex(soale setiap ke pantai bareng temen2,ane gak pernah sama sekali di depan memimpin rombongan). Gantian dipimpin teman yang lain yang dikiranya tahu jalan, eh ternyata malah makin kesasar parah. (Disini kadang kita merasa sedih). Dan pada akhirnya kita menemukan jalan yang benar setelah kesana kemari bertanya sama penduduk lokal atas jalan yang akan kita lalui.

Ketika dipimpin teman yg lain, ane terpaksa jadi yang terbelakang bersama jarjit dan 1 temen yang ane boncengin, sebut saja namanya Devianta(nama samaran). Devianta adalah salah satu temen kerja kita yang suka jalan2 dan berpetualang. Ohya,, dia cowok berperawakan subur (80kg), berkolaborasikan dengan ane 65kg dan barang bawaan yang tidak sedikit pastinya. Ketika menghadapi jalanan datar si jarjit masih bisa mengikuti dengan baik. Tapi setelah masuk daerah semin gunungkidul, jalanan mulai naik turun gak jelas, jarjit bener2 dipaksa untuk mengeluarkan ekstra tenaganya. Suara ngoook-ngoook pun keluar dari karburasi tanpa filter jarjit ketika jalanan menanjak, menandakan jarjit mulai menerima siksaan berat. Shokbreaker belakang pun mulai melakukan tugas beratnya, ajrut-ajrutan dan kadang mentok ketika mendapat tekanan parah. Itulah kenapa ane masih percaya jarjit dengan dual shoknya,, karena ketika disiksa shok kiri dan kanan bekerja bersamaan menerima beban masing2 50%. Berbeda jika memakai motor monoshok, dia akan menerima beban 100% dari beban.
Bukit demi bukit kita lalui sampai kita temui perempatan lampu merah daerah wonosari, disitu kita bebarengan dengan klub CB yang campur dengan GL series dan megapro bercirikan knalpot blaarr-blaarr nya. (Ini pasti juga mau ke pantai, batin kita dalam hati).

Nah, kesasar pun kita alami lagi sebelum sampai di bagian penarikan retribusi masuk pantai pok tunggal, yang sebelumnya kabarnya masuk pantai masih gratis tis dan hanya bayar parkirnya. Ehh sekarang masuknya bayar per @10rb rupiah dg rincian 9.500 retribusi masuk dan 500rupiah jaja-miharja(mangsude jasa raharja). Kita 9 orang yaa bayar 90rb. Mayan mahal bagi ane pribadi sih. Ohya,,jangan lupa minta karcis retribusinya yaa, karena itulah bukti bahwa uang kita masuk ke pemda setempat guna membangun sarana prasarana yang memadai….

Disini kita engga bisa masuk langsung ke pantai pok tunggal melalui jalan utama,, disana ada pengumuman bahwa ada perbaikan pada jalan masuk. Namun kita diberitahu jalan masuk ke pok tunggal dialihkan melalui pantai indrayanti dan pantai watulawang yang berada di sebelah baratnya. Jalanan batu kapur 100-200 meteran yang disusun tidak membuat ane dan jarjot kaget. Karena sebelumnya ane pernah ke pantai ngetun yang notabene akses masuknya lebih parah dan jauh daripada ini. Akhirnya sampailah di parkiran pantai watulawang. Bayar inapan per motor 10rb gan,,lebih mahal 5x lipat daripada parkir inap di RS swasta di kota solo(ini juga diluar perkiraan). Parkir dan jalan dulu kurang lebih sejauh sekilo. Dan wallaa,, akhirnya apa yang kita kejar kesampaian juga….
Alhmdulillah.
Inilah view lain dari sunset yang saya ambil dari salah satu bukit menuju ke pantai pok tunggal.
Dan kita mulai bernarsis ria serta tak lupa mengabadikan momen-momen jarang ini sampai hilangnya semburat jingga di ufuk barat.
image

Sekian dulu cerita kita mengejar sunset di pantai pok tunggal. Foto2 lain akan diupdate lagi. Dan cerita lanjutan akan ane unggah pada postingan berikutnya (pok tunggal part 2 dan part 3).
See u next article n wassalamu’alaikum.

Posted from WordPress for Android Xiaomi

Iklan

4 thoughts on “Mengejar Sunset (Pok Tunggal Part 1)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s